Jatim

Cerita Rofiah, Raup Cuan dari Jenang Suro

Bagus Zuhair | 13 Juli 2024, 14:27 WIB
Cerita Rofiah, Raup Cuan dari Jenang Suro

AKURAT.CO, Bulan Muharam menjadi berkah bagi Rofiah (59) seorang janda di Pasuruan, Jawa Timur. Di bulan ini, usahanya memproduksi jenang suro kebanjiran pesanan. 

Sejak datangnya Tahun Baru Islam atau bulan Suro, Rofiah disibukkan dengan aktivitas membuat jenang suro untuk memenuhi pesanan pelanggan. Rata-rata, Rofiah menerima 100 porsi pesanan per hari.

"Paling banyak sehari bisa 100 porsi, mulai tanggal 1 suro hingga sekarang terus ada pesanan," kata Rofiah saat membuat jenang suro di rumahnya, di Kelurahan Krampyangan, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan. 

Menurut Rofiah, jenang suro atau bubur yang diisi dengan beberapa lauk ini sering dipesan oleh pelanggan untuk selamatan di masjid dan dibagikan kepada sanak saudara serta tetangga dekat.

"Buat selamatan kan biasanya, kadang dibawa ke masjid kadang dibagikan tetangga," paparnya. 

Ibu dengan tiga anaka ini telah menekuni usaha musiman ini selama 34 tahun, warisan dari orang tuanya, demi memenuhi kebutuhan hidup setelah ditinggal suaminya.

Proses pembuatannya pun terbilang unik. Pertama, Rofiah mengaduk beras hingga menjadi bubur, yang membutuhkan waktu 3 jam lebih. Usai matang dan dingin, bubur ini dituangkan ke kotak plastik dan diberi isian lauk.

"Nggak susah, tapi bikinnya bisa setengah hari," jelasnya. 

Pembuatan perkedel kelapa, sambal goreng tempe dicampur ikan teri, tahu, kacang goreng, ayam suwir, dan telur dadar iris juga cukup menyita waktu.

Selain itu, jenang suro juga dilengkapi dengan kerupuk, kuah kare ayam dalam kemasan plastik, singkong, dan kerupuk.

Rofiah, setiap lauk pauk dalam Jenang Suro memiliki makna tersendiri dan disajikan setiap bulan Suro yang dianggap orang Jawa sebagai bulan suci.

Bagi Rofiah, singkong yang ditaburkan di atas jenang suro merupakan warisan leluhur dahulu, yang dimaknai sebagai pasukan Firaun yang ditenggelamkan ke dalam laut oleh Nabi Musa saat perang.

"Kalau kata orang dulu itu singkong diibaratkan Firaun yang ditenggelamkan Nabi Musa saat perang," imbuhnya. 

Sementara itu, bagi pembeli, jenang suro hasil masakan Rofiah berbeda dengan yang lain. Selain ada singkongnya, buburnya lemas, ikannya banyak, kuahnya gurih, dan rasanya nikmat, sehingga cocok untuk selamatan sebagai bentuk kepedulian dan kebersamaan antar umat.

"Murah, rasanya enak dan gurih," kata Nofrida.

Rofiah memproduksi jenang suro ini hanya saat bulan Suro saja. Diperkirakan tanggal 10 Asuro ini pesanan akan bertambah banyak. Jenang suro dijual Rp 10.000 per porsinya.

"Alhamdulillah, berkah bulan suro, sehari omset bisa Rp 1 juta dari 100 porsi pesanan," ungkapnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.