Jatim

Pusaka dari Malaysia hingga Brunei Dijamas di Puspo Pasuruan

Eko Krisyanto | 19 Juni 2026, 16:00 WIB
Pusaka dari Malaysia hingga Brunei Dijamas di Puspo Pasuruan
Jamasan Pusaka di Pasuruan. (Eko Krisyanto)

AKURAT.CO, Tradisi jamasan atau pencucian pusaka masih terus terpelihara dengan sakral di Desa Kemiri, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan. Ritual tahunan yang digelar setiap Bulan Suro dalam penanggalan Jawa ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya leluhur, tetapi juga magnet yang menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah, bahkan hingga mancanegara.

Suasana di lingkungan tempat pandai besi Penganti tampak lebih ramai dibanding hari-hari biasa, Kamis (18/6/2026) pagi. Puluhan warga berdatangan silih berganti membawa berbagai benda pusaka untuk mengikuti prosesi jamasan yang telah diwariskan secara turun-temurun selama beberapa generasi.

Para peserta datang dari berbagai daerah seperti Lumajang, Probolinggo, Madura, hingga Kalimantan. Tak hanya itu, sejumlah pusaka milik kolektor dari luar negeri juga turut dikirim untuk mengikuti ritual tersebut. Beberapa di antaranya berasal dari Malaysia dan Brunei Darussalam.

Tradisi jamasan tahun ini dipimpin langsung oleh Muhammad Jufri, Empu Penganti generasi kelima yang meneruskan warisan leluhur keluarganya. Menurutnya, persiapan ritual telah dilakukan sejak beberapa hari sebelumnya. Para pemilik pusaka bahkan sudah menyerahkan benda pusaka mereka sejak dua hari sebelum prosesi dimulai.

Foto: Jamasan Pusaka di Pasuruan. (Eko Krisyanto)

Jumlah pusaka yang mengikuti jamasan pun mencapai ratusan. Setiap peserta membawa jumlah yang berbeda-beda, mulai dari satu hingga puluhan pusaka sekaligus. Beragam jenis benda pusaka terlihat memenuhi lokasi, mulai dari keris, pedang, celurit, pisau, hingga benda-benda berukuran kecil seperti cincin, liontin, dan berbagai aksesoris berbahan besi aji.

Sebelum prosesi dimulai, seluruh pusaka terlebih dahulu dikumpulkan di area penempaan yang berada sekitar 10 meter dari rumah sang empu. Di lokasi tersebut telah disiapkan berbagai perlengkapan ritual dan sesaji berupa bunga, bubur putih, tumpeng, serta perlengkapan lainnya yang menjadi bagian dari tradisi jamasan.

Prosesi kemudian dilakukan secara bertahap. Satu per satu pusaka dibuka dari sarung atau pembungkusnya, lalu dimasukkan ke dalam gentong berisi air bunga. Setelah itu, pusaka dibersihkan dan dibasuh menggunakan minyak wangi sebagai simbol penyucian serta perawatan benda pusaka.

Karena jumlah pusaka yang sangat banyak, proses jamasan tidak bisa diselesaikan dalam satu hari. Ritual pencucian diperkirakan akan berlangsung hingga tanggal 10 Suro mendatang agar seluruh pusaka yang telah didaftarkan dapat mengikuti prosesi secara menyeluruh.

Muhammad Jufri menjelaskan, jamasan bukan sekadar membersihkan benda pusaka dari kotoran atau karat yang menempel. Lebih dari itu, ritual ini merupakan bentuk penghormatan terhadap warisan budaya sekaligus upaya menjaga nilai-nilai filosofi yang terkandung di dalam setiap pusaka.

“Setiap tahun antusiasme masyarakat selalu tinggi. Bahkan ada pusaka yang dikirim dari Malaysia, Brunei Darussalam, dan Kalimantan untuk dijamas di sini,” ujarnya.

Menurut Jufri, tingginya minat masyarakat menunjukkan bahwa tradisi leluhur masih memiliki tempat tersendiri di tengah perkembangan zaman. Banyak pemilik pusaka yang meyakini bahwa perawatan secara rutin menjadi bagian penting untuk menjaga kondisi fisik maupun nilai historis dari benda-benda tersebut.

Salah seorang peserta, M. Sofyan, mengaku tidak pernah absen mengikuti ritual jamasan setiap tahunnya. Ia datang membawa sejumlah koleksi pusaka Penganti miliknya untuk dibersihkan bersama ratusan pusaka lainnya.

“Jadi, selain sebagai bentuk pelestarian budaya leluhur, jamasan juga menjadi momentum untuk merawat benda-benda pusaka agar tetap terjaga dengan baik,” katanya.

Pusaka Penganti sendiri telah dikenal luas, khususnya di wilayah Jawa Timur. Berbagai karya besi aji hasil tempa para empu Penganti memiliki ciri khas tersendiri dan dipercaya menyimpan nilai sejarah serta filosofi yang kuat. Tak heran jika benda-benda tersebut banyak diminati oleh kolektor, pegiat budaya, maupun pecinta pusaka dari berbagai daerah.

Proses pembuatannya pun tidak dilakukan secara sembarangan. Setiap pusaka ditempa melalui tahapan khusus yang diwariskan secara turun-temurun oleh para empu. Tradisi itulah yang membuat nama Penganti tetap bertahan hingga kini dan terus menjadi salah satu pusat pelestarian budaya perpusakaan di Kabupaten Pasuruan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.