Jatim

Demonstrasi Lintas Organisasi Wartawan di Malang Mengutuk Sebutan "Londo Ireng" Oleh Prabowo

Dhani Ramadani | 27 Juli 2026, 16:19 WIB
Demonstrasi Lintas Organisasi Wartawan di Malang Mengutuk Sebutan "Londo Ireng" Oleh Prabowo
Para jurnalis Malang mengutuk sebutan "Londo Ireng" oleh Prabowo.

AKURAT.CO, Puluhan wartawan yang tergabung dari beberapa organisasi PWI, AJI, IJTI hingga PFI se Malang Raya melakukan aksi demonstrasi di bundaran Tugu Malang, Senin (27/7/2026). Aksi ini sebagai protes terhadap pernyataan Presiden RI, Prabowo Subianto, yang menyebut mereka sebagai “Londo Ireng”. Pernyataan yang menyebut profesi wartawan sama dengan "londo ireng" itu disampaikan Presiden Prabowo saat pidato di Harlah PKB beberapa waktu lalu di Jakarta.

Demonstrasi dengan membawa sejumlah poster dan berjalan mundur itu diserukan para jurnalis di Malang Raya. Sejumlah poster dibentangkan para jurnalis, seperti “Kami Ireng Tapi Bukan Londo”, “Tolak Stigmatisasi Jurnalis”, “Anti Kritik = Takut Kebenaran” hingga “Jurnalis Bersama Rakyat”.

"Pernyataan Presiden Prabowo mencederai profesi jurnalis. Sebagai salah satu pilar demokrasi, pers berkewajiban untuk mengkritik berbagai kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat. Jika mengkritik dianggap melawan, ia perlu diingatkan bahwa ia menerima mandat dari rakyat dan digaji dari uang rakyat. Janganlah memberi contoh buruk apalagi di atas podium resmi seperti itu," ujar Ketua AJI Malang, Benni Indo, dalam orasinya.

Lebih lanjut, Benni menegaskan bahwa tema aksi 'Kami Bukan Londo Ireng!', diangkat sebagai respons atas stigmatisasi yang menyamakan jurnalis dengan penjajah, pengkhianat, dan penindas rakyat ala era kolonial.

"Frasa 'Londo Ireng' yang disematkan kepada wartawan sangat kontradiktif. Dalam catatan sejarah bangsa Indonesia, banyak pahlawan nasional yang berlatar belakang jurnalis, seperti WR Supratman pencipta lagu Indonesia Raya, Tirto Adhi Suryo, Adam Malik, Roehana Koeddoes, hingga HOS Cokroaminoto," tegas Benni.

"Orang yang selama ini menasbihkan dirinya paling nasionalis, nyatanya mencela para pejuang. Bahkan lagu Indonesia Raya yang selalu dinyanyikan itu ciptaan jurnalis," imbuhnya.

Senada dengan hal tersebut, Ketua IJTI Korda Malang Raya, Hilda Daningtyas, menilai ucapan tersebut sangat melukai harga diri, independensi, serta marwah profesi wartawan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.