Jatim

Komdigi Ingatkan Jurnalis Tetap Jadi Penjaga Kebenaran di Tengah Disrupsi AI

Raphel Aziza | 17 April 2026, 16:34 WIB
Komdigi Ingatkan Jurnalis Tetap Jadi Penjaga Kebenaran di Tengah Disrupsi AI
Direktur Ekosistem Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Farida Dewi Maharani. (Raphel Aziza)

AKURAT.CO, Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang mulai merambah ruang redaksi, ada kegelisahan yang tak bisa diabaikan. Bukan hanya soal teknologi, tapi juga tentang masa depan jurnalisme itu sendiri.

Direktur Ekosistem Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Farida Dewi Maharani, menyampaikan pesan yang cukup dalam kepada para jurnalis saat diwawancarai, Kamis (16/4/2026) sore. Di tengah disrupsi digital yang terus bergulir, ia mengingatkan agar insan pers tidak kehilangan arah—dan yang terpenting, tidak kehilangan peran manusianya.

“Ini tantangan besar bagi teman-teman media. Disrupsi itu nyata, bahkan sampai berdampak pada layoff. Media semakin banyak, konten kreator juga semakin menjamur,” ujarnya.

Menurut Farida, perubahan lanskap informasi saat ini menuntut semua pihak, termasuk industri media, untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga beradaptasi dan berinovasi. Namun, di tengah dorongan untuk memanfaatkan teknologi, ada satu hal yang tidak boleh tergantikan: nurani dan nalar manusia.

Ia menyoroti penggunaan AI di ruang redaksi yang kini semakin lazim. Di satu sisi, teknologi ini mampu mempercepat kerja jurnalistik. Namun di sisi lain, ada risiko ketika AI digunakan tanpa kendali.

“AI itu tools, membantu pekerjaan. Tapi jangan sampai media percaya penuh pada AI. Pada akhirnya, yang berperan tetap manusia,” tegasnya.

Pesan ini bukan tanpa alasan. Farida melihat bagaimana teknologi AI kini mampu menciptakan konten yang nyaris tak bisa dibedakan dari kenyataan—mulai dari wajah, suara, hingga ekspresi yang tampak begitu nyata. Kondisi ini, menurutnya, menjadi tantangan serius, tidak hanya bagi pemerintah, tetapi juga bagi jurnalis sebagai penjaga gerbang informasi.

Di titik inilah, ia menekankan pentingnya sikap kritis—nilai yang selama ini menjadi fondasi utama dunia jurnalistik.

“Jangan langsung menelan informasi. Harus dipikirkan kembali, benar atau tidak. Secara logika masuk atau tidak,” ungkapnya.

Lebih jauh, Farida juga menyinggung peran literasi digital yang selama ini menjadi fokus utama Komdigi. Namun dalam konteks media, literasi itu bukan sekadar kemampuan memahami informasi, melainkan juga tanggung jawab moral untuk menyajikan kebenaran di tengah banjir konten.

Di era ketika semua orang bisa menjadi “pembuat berita”, jurnalis justru dituntut untuk semakin teguh pada prinsipnya.

Bagi Farida, teknologi boleh berkembang secepat apa pun, tetapi kepercayaan publik tetap bertumpu pada manusia di balik berita. Dan di situlah, jurnalis memiliki peran yang tidak bisa digantikan oleh mesin.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.