Jatim

Saraswati di Lereng Bromo: Saat Doa Menggema, Ilmu Dimuliakan, Moral Diuji

Raphel Aziza | 4 April 2026, 21:08 WIB
Saraswati di Lereng Bromo: Saat Doa Menggema, Ilmu Dimuliakan, Moral Diuji
Umat Hindu Suku Tengger di Kecamatan Sukapura merayakan Hari Saraswati. (Raphel Aziza)

AKURAT.CO, Kabut tipis menggantung di lereng Gunung Bromo, Sabtu (4/4/2026). Di tengah dingin yang menusuk, doa-doa menggema. Umat Hindu Suku Tengger di Kecamatan Sukapura larut dalam kekhusyukan saat merayakan Hari Saraswati; sebuah momentum sakral yang bukan hanya memuliakan ilmu, tetapi juga menggugah nurani.

Dupa mengepul, membumbung pelan ke langit pegunungan. Kidung suci dilantunkan, memecah sunyi, mengalun dari pura ke pura. Di Desa Sapikerep, ratusan umat memadati Pura Sradha Bhakti di Dusun Kedampul. Wajah-wajah penuh harap tertunduk, tangan terkatup, menyatu dalam doa yang dalam dan penuh makna.

Namun Saraswati bukan sekadar seremoni. Di balik rangkaian ritual, tersimpan pesan yang mengguncang: ilmu pengetahuan adalah kekuatan—yang bisa menerangi, namun juga bisa menyesatkan jika kehilangan arah. Buku, lontar, dan sarana belajar disucikan, bukan hanya sebagai simbol, tetapi sebagai pengingat bahwa ilmu harus dijaga dengan hati dan dijalankan dengan tanggung jawab.

Ketua PHDI Desa Sapikerep, Rujiyanto, menegaskan makna itu dengan nada serius.

“Saraswati bukan hanya tentang ritual. Ini adalah momen kesadaran. Ilmu harus digunakan secara bijak dan bertanggung jawab. Tanpa itu, ilmu bisa menjadi ancaman,” ujarnya tegas.

Ia mengingatkan, kecerdasan tanpa moral adalah bahaya yang nyata. Ketika ilmu dilepaskan dari etika, yang lahir bukan kemajuan, melainkan kehancuran.

Persembahyangan dipimpin para mangku, diikuti lintas generasi. Dari tetua adat hingga pemuda-pemudi, semua hadir, semua bersujud. Di tengah arus zaman yang kian deras, kehadiran generasi muda menjadi harapan—bahwa nilai luhur tak akan padam.

Salah satu pemudi, Meyla, mengaku bangga menjadi bagian dari perayaan tersebut. Baginya, Saraswati bukan hanya tradisi, tetapi juga perekat kebersamaan.

“Perayaan ini datang setiap 210 hari sekali, berdasarkan kalender Bali, Saniscara Umanis Wuku Watugunung. Kami berharap umat semakin kompak dan selalu hadir dalam setiap persembahyangan,” tuturnya.

Di balik dinginnya lereng Bromo, tersimpan pesan yang hangat dan kuat: ilmu bukan sekadar untuk diketahui, tetapi untuk dijalani dengan hati nurani.

Hari Saraswati di tanah Tengger menjadi pengingat—bahwa keseimbangan antara pengetahuan dan kebijaksanaan adalah benteng terakhir menjaga harmoni kehidupan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.