Jatim

Kebakaran Bromo Capai 176 Hektare

Eko Krisyanto | 8 Agustus 2026, 16:35 WIB
Kebakaran Bromo Capai 176 Hektare
Kebakaran Bromo. - Dok./Raphel Aziza/AKURAT.CO

AKURAT.CO, Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) belum sepenuhnya padam. Kebakaran telah meluas hingga sekitar 176 hektare.

Pemadaman terus dilakukan tim gabungan hingga saat ini. Upaya pemadaman baik lewat darat maupun udara.

Pemadaman darat dilakukan dengan menyiramkan air dari mobil-mobil tangki ke api, membuat sekat bakar hingga sistem manual gebyok. Upaya lewat udara dengan drone water spray dan helikopter water bombing, meskipun pemadaman lewat udara belum optimal karena kencangya angin dan jauhnya sumber air.

Baca: Bromo Mulai Menjalar ke Puncak B29 Lumajang

"Kami masih fokus pemadaman," kata Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha, kepada awak media, Sabtu (8/8/2026).

Rudijanta mengatakan dugaan sementara kebakaran berkaitan dengan aktivitas manusia yang melintas di jalur tradisional menghubungkan wilayah Argosari dan Ranupani pada punggungan Blok Bantengan. Di kawasan tersebut, warga diduga membuat perapian untuk menghangatkan tubuh saat kondisi udara dingin. Kondisi vegetasi yang kering akibat musim kemarau ditambah tiupan angin membuat api yang berasal dari perapian tersebut berpotensi cepat merambat.

Baca: Kebakaran Savana Bromo Ancam Habitat Satwa Liar

"Kadang-kadang yang melintas saat dingin, juga bikin perapian, lupa atau seperti apa. Dengan cuaca seperti ini menjadi pemicu kebakaran. Itu yang kita duga sampai saat ini," ujarnya.

Dugaan itu masih harus dipastikan melalui investigasi. Proses investigasi belum menjadi prioritas karena api masih harus dikendalikan. Menurutnya, penelusuran penyebab kebakaran baru dapat dilakukan secara lebih menyeluruh setelah kondisi kawasan dinyatakan aman.

Kebakaran kawasan TNBTS bermula di Blok Bantengan pada Senin (3/8) pukul 17.00 WIB. Kebakaran cepat menyebar ke beberapa arah karena angin kencang, cuaca terik dan vegetasi yang kering.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.