Jatim

Pengusaha Tahu di Banyuwangi Gulung Tikar Imbas Rupiah Terus Melemah

Dhani Ramadani | 31 Mei 2026, 07:55 WIB
Pengusaha Tahu di Banyuwangi Gulung Tikar Imbas Rupiah Terus Melemah
Perajin tahu. (Dhani Ramadani)

AKURAT.CO, Pelemahan nilai tukar rupiah yang terus merosot hingga menyentuh level Rp17.861 per dolar Amerika Serikat (AS) kini mulai memukul telak sektor riil di berbagai daerah. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), salah satunya industri perajin tahu rumahan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang kini berada di ambang keterpurukan.

Sebagai komoditas pangan yang sangat bergantung pada bahan baku impor, lonjakan harga kedelai internasional menjadi momok menakutkan yang memaksa sejumlah pengusaha lokal menghentikan produksinya alias gulung tikar. Para perajin tahu di Banyuwangi mengeluhkan ketidakstabilan harga kedelai impor yang merangkak naik secara signifikan dalam waktu singkat.

Dalam kurun waktu lima bulan terakhir, harga kedelai kualitas impor dilaporkan melonjak drastis dari yang semula berada di kisaran Rp8.500 per kilogram, kini telah menembus angka Rp10.500 per kilogram. Kenaikan harga bahan baku utama yang mencapai lebih dari 20 persen ini otomatis mengacaukan kalkulasi biaya produksi harian para perajin.

Guna menyiasati pembengkakan biaya pengolahan dan menghindari kerugian yang lebih besar, sebagian pengusaha mengambil kebijakan taktis dengan memperkecil dimensi atau ukuran potongan tahu yang dijual ke pasar. Mereka tidak menaikkan harga jual tahu di tingkat pengecer karena daya beli masyarakat saat ini sedang lesu dan sangat terbatas.

"Jika harga dinaikkan, konsumen justru akan beralih. Menurunkan ukuran tahu adalah satu-satunya opsi realistis yang tersisa, meskipun margin keuntungan kami terpangkas habis," ujar salah satu perajin setempat, Nurul Hakim, Minggu (31/5/2026).

Selain mahalnya kedelai, para perajin juga harus berhadapan dengan tren kenaikan tarif dasar listrik yang menjadi komponen penting dalam proses penggilingan kedelai mekanis. Kombinasi antara meroketnya harga bahan baku dan tingginya biaya energi membuat arus kas (cash flow) usaha menjadi tidak sehat.

Hakim mengatakan lonjakan harga kedelai impor dalam beberapa bulan terakhir berdampak besar terhadap biaya produksi usahanya. Pada Desember 2025 harga kedelai impor masih sekitar Rp 8.500 per kilogram. Kini harganya naik menjadi sekitar Rp 10.500 per kilogram.

Tahu putih produksi Hakim berukuran sekitar 5 sentimeter dan dijual Rp 4.000 per 10 biji. “Harga bahan baku naik. Tapi tidak mungkin saya naikkan harga jual. Paling bisanya mengecilkan ukuran tahu,” ujarnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.